"I'm like the water when your ship rolled in that night. Rough on the surface but you cut through like a knife"
Langit yang kau lihat di sana begitu memesona. Jingga warnanya,
pun indah. Tapi tidak dengan hatiku, berwarna abu-abu hingga kelam. Hari-hari
yang kujalani tak ada lagi arti. Hambar di setiap langkah-langkah yang kupijak.
Sepi tiada arti. Dia bukan milikku, tapi dia pergi meninggalkanku. Bayang-bayangnya
tiada lagi bermuara di persinggahan, pergi berlayar bersama nahkoda selamanya. Apa
artinya hidup bila perahumu tak ada lagi di sini. Aku hendak mati saja.
Langit yang cerah ialah hidupku yang dahulu. Tapi burung
mengabarkan padaku bahwa penyebab runtuhnya langit ialah sebuah lambaian
selamat tinggal dari seseorang yang selalu dilangitkan. Dia tidak berbicara,
tetapi sebuah potret yang menjadi cerita terpanjang yang disepanjang kisahnya
terdapat sayatan dan luka yang terasa amat perih. Seketika air mata ini jatuh. Air
mata yang jatuh ini, apakah bisa mengembalikan apa yang terjadi di masa lalu?
Ingatkah kau saat aku ke rumahmu dan mengatakan hal-hal yang getir
hingga membuatmu terbata-bata, bahwa kisah yang ingin kau lalui masih begitu
panjang, tidak memikirkan hal yang begitu singkat terhadap sebuah beban. Aku mengerti.
Makanya aku tak ingin memaksakan. Disamping sadar diri dari apa yang sedang
terjadi padaku.
Aku belum bisa membaca isi dalam pikiranmu, tapi aku tahu apa yang terjadi dalam gerikmu. Kau tak menginginkan itu. Tapi bisakah kau menjelaskan di balik makna beberapa undangan itu dan beberapa perkenalan-perkenalan di setiap kepala dalam rumahmu itu. Hampir saja aku menganggap itu sebuah pertanda atau mungkin hanya sebuah silaturahmi yang tidak bermakna sama sekali. Begitu rumitnya setiap waktu.
Beberapa menganggap bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Akupun perlahan pamit dan membiarkannya berkelana dengan segala macam rencana yang kau inginkan, tanpa ada paksaanku di dalamnya. Dan aku membiarkanmu memilih. Bebas untuk sebuah persinggahan yang mungkin kau butuh waktu untuk itu. Di samping aku juga sebenarnya butuh waktu juga, setidaknya bertahun-tahun.
Namun, pikiranku selalu saja kacau. Tiada hari tanpa bisa
menghentikan dari bayang-bayang wajahmu. Berharap sebuah pesan darimu yang muncul
dinotif ponselku yang angker. Tapi itu hanya mimpi; yang kalah dari satu berbanding
seribu. Mustahil untuk bisa bersaing.
Kini kau pergi. Benar-benar pergi dari mimpiku. Aku tak bisa lagi
bermimpi, dan membayangkan rumah yang sudah dititipkan padaku ada kau di
dalamnya. Kegagalan dari harapan itu membuat rumah itu terus saja bersawang
sampai ada penghuni yang baru.
Selamat untuk harapanmu yang sudah terhenti, dan aku masih saja
melanjutkan kisah yang tiada henti. Entah sampai kapan bahwa semesta merestui. Sementara
aku saja masih berkelahi dengan diriku sendiri. Gundah gulana tentang ambang
yang diantaranya berjodoh atau berpulang.
Aku yakin jika kau tahu sebuah gundah gulana yang terjadi selama ini,
dalam hatimu kau akan mengatakan maaf atas segala yang terjadi padaku. Maaf
karena membuatku mencintaimu segila ini. Aku berharap maaf darimu kau selipkan
doa untukku jika aku bukan milikmu di dunia, tentu kau akan jadi milikku di
surga. Wakafa billahi syahida ana
uhibbuka fillah.
0 Comments