Tak ada sesuatu yang lebih indah dari sebuah kata-kata kecuali puisi. Hidupku penuh dengan puisi. Dan kiblatku juga puisi. Tak heran dengan kegombalan yang selalu muncul di beranda-berandamu. Kedengarannya begitu berlebihan, memang. Justru inilah sesuatu yang aku sukai.

Sebagai seorang penyair amatiran ini hanya pandai merangkai, berbahasa di kertas. Namun aku lemah di atas panggung ketika aku membacakan puisi. Berpuluh-puluh puisi yang aku rangkum, tak pernah satupun kubacakan. Entah mengapa. Bulu kudukku merinding seakan memakan binatang melata hidup-hidup.

Bertahun-tahun aku memendam, dan membiarkan ini membeku. Tak mau aku mencoba, apalagi belajar. Jika tidak, berarti tetap tidak. Teriakku keras melantang. Terkadang ada rasa ingin, namun sulit rasanya seperti seorang penyair pada umumnya. Berani berdiri, dan membacakan puisinya. Banyak hal-hal yang aku pikirkan, bagaimana jika aku tremor dalam mengucapkan kata-kata. Bagaimana aku gugup berdiri di sana dan salah mengintonasikan kalimat-kalimat yang berirama itu. Membacakan puisi aku sebegitunya merinding. Membayangkannya saja rasanya aku ingin muntah.

Seperti tahun kemarin, Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun ini mengadakan kembali lomba hari antikoprupsi sedunia salah satunya lomba cipta dan baca puisi. Jujur, saat aku melihat kata baca disitu seakan ragu. Tapi ada rasa ingin juga, karena ingin mencoba bersaing dengan para pencipta puisi di sana. Apalagi mencoba hal baru mencipta puisi di luar tema yang biasa aku tulis.

Sulit bagiku untuk menciptakan puisi bertemakan antikorupsi. Apalagi menciptakannya begitu mendadak. Sebab menciptakan puisi saja aku perlu waktu berhari-hari untuk bisa menciptakan diksi yang baik agar tidak terkesan biasa saja. Tentu sebelum tiba harinya, aku mencari referensi kata-kata yang tepat dan seperti apa bunyi puisi-puisi antikorupsi yang penyair ciptakan. Selalu banyak belajar, akhirnya aku siap untuk bertanding.

Tiba di harinya, perasaan beku dan gigil seketika muncul. Terlihat kaku dan tidak percaya diri. Ingin rasanya aku pulang saja. Tapi terlanjur untuk duduk bersama pencipta puisi lainnya. Jam kian berdetak, waktu berganti, dan siap untuk menulis. Inspirasi kata-kata itu mengalir begitu saja, mencorat-coret kertas yang telah diberikan untuk merangkai diksi-diksi yang baik. Ternyata satu jam waktuku merangkai kat-kata. Satu persatu tentu peserta lomba telah selesai, hanya aku satu-satunya laki-laki yang tersisa. Pikirku, persetan dengan kekalahan, yang penting aku cepat pulang.

Tinggal menunggu pengumuman di sore hari. Sekitar 50 lebih peserta lomba cipta puisi, hanya akan diambil 10 orang saja yang akan dibacakan puisinya. Tentu aku tidak berharap lebih akan hal itu, malah kalau bisa aku bukan salah satunya, sebab membacakan puisi adalah masih jadi hal paling aku takutkan. Ternyata, bukan doaku. Tapi keberuntungan yang datang. Aku masuk 10 besar itu, dan menjadi satu-satunya laki-laki yang masuk 10 besar dalam pembacaan puisi. Entahlah aku senang atau tidak, karena ini akan jadi hal pertama kali dalam sejarah hidupku. Akan dipertontonkan di depan para juri, dan puluhan orang-orang yang tak satupun aku kenali.

Tepat di malam hari itu, aku hadir, dan aku berada diurutan kelima. Tentu aku begitu takut sembari latihan di dalam hati. Satu persatu mereka tampil dengan sangat baik. Begitupun aku. Juri menganggap puisiku begitu sangat baik, tapi tidak ketika saat dibacakan. Katanya aku begitu cepat membacakannya. Lupa dengan tanda baca. Maklumlah efek grogi.

Namun dalam perlombaan itu aku kalah. Tidak masuk 3 besar. Luput kehilangan uang ratusan ribu. Tapi setidaknya aku sudah berani untuk tampil. Kalah dipertandingan, namun menang di kehidupan, karena telah membawa sejarah baru dalam hidupku. Setidaknya aku juara 1 di antara peserta laki-laki yang lain. Jadi pemenangnya tetap aku!